Inspirasi Perubahan

Posted: April 26, 2013 in Artikel
Tag:, , , , , , , , ,

Hasil digesting artikel Reynald Kasali, judul Kurikulum “Berpikir” 2013

Oleh : Hendra Permana

 

Keadaan pendidikan Indonesia patut kita perhatikan. Tidak dipungkiri, mungkin dibeberapa wilayah Indonesia, pendidikan masih merupakan sesuatu yang mahal, bahkan tidak ditemukan. Padahal kita semua tahu, kemajuan suatu Negara ditentukan oleh kualitas pendidikan – yang menciptakan sumber daya manusia yang mampunyai daya saing dan pemikiranan tinggi.

Berikut mungkin akan menjadi sala satu artikel yang bisa dijadikan inspirasi perubahan, artikel ini berjudul Kurikulum “Berpikir” 2013 yang dibuat oleh Rhenald kasali. Dari artikel itu saya menemukan beberapa hal penting yang ingin saya bahas dalam artikel saya ini. Yang pertama dalam artikel tersebut mengatakan “…pendidik yang baik harus cekatan melayani diskusi, bukan meringkas isi buku.”, dari rangkaian beberapa kata tersebut saya langsung berpikir, melayani diskusi?, ini yang berarti siswa atau mahasiswa yang meminta diskusi. Kebiasaan yang mungkin sulit ditemukan di negara ini, tidak bisa kita tutupi kan?, jangankan meminta diskusi, andaikan ada ajang atau momen diskusi saja, terkadang siswa malah menghindar atau terdiam seribu bahasa tanpa ada rasa ingin peduli. Jadi sebelumnya langkah yang harus dipikirkan untuk mendapatkan perubahan pendidikan, kita harus merubah pola pikir siswa atau mahasiswa sendiri. Dari siswa atau mahasiswa yang tidak peduli diskusi menjadi gemar berdiskusi, untuk mendapatkan pola pikir tersebut, siswa atau mahasiwa harus dilatih gemar membaca mulai pendidikan di TK hingga di perguruan tinggi, dari kegemaran membaca siswa atau mahasiswa pastilah mempunyai banyak pengetahuan atau ilmu-ilmu yang perlu di olah, dalam pengolahannya peran pendidik pastilah diperlukan. Nah, salasatu ajang untuk mengolah dan saling bertukar pikiran yaitu dengan berdiskusi. Karena ilmu yang banyak dipunya oleh siswa atau mahasiswa sendiri, pastilah keingin untuk selalu berdiskusi akan muncul pada pribadi mereka sendiri. Jadi kesimpulan dalam poin ini, untuk menciptakan siswa atau mahasiswa yang gemar berdiskusi, rasa senang dalam membaca harus ditanamkan terlebih dahulu.

“Daya keritis tidak diberi ruang, pertanyaan-pertanyaan penting yang diperlukan manusia untuk bernalar dimatikan sedari muda” artkel dari Rhenald kasali mengatakan begitu, tentang keadaan pendidikan di Negara kita ini. Memang saya berpikir begitu pula. Masih banyak pendidik-pendidik yang terpacu oleh satu buku, sehingga mereka terkadang takut menghadapi suatu pertanyaan yang akan dilontarkan oleh siswa atau mahasiswanya. Dari keadaan tersebut dari beberapa pendidikan sekolah munculah metode keledai yang saharusnya, berani untuk dihilangkan. “Sekolahnya menghafal tanpa berani berbuat, apalagi menyatakan identitas diri atau berpikir”, Kalau di artikel Rhenald kasali metode itu disebutkan begitu. Jadi setelah siswa atau mahasiswa sudah mempunyai perubahan, seharusnya diberikan jalan. Untuk mendapatkan jalan pendidikpun harus berani merubah pola pikirnya sendiri untuk mencari pengetahuan, misalnya dari banyak buku, tidak hanya satu buku. Kalau sudah diterapkan rasa takut mendapatkan pertanyaan kritis dari siswa atau mahasiswa, pastilah akan hilang, karena pendidik sudah merasa percaya diri, dari ilmunya yang sudah banyak didapatkan dari banyak buku.

Saat itulah timbal balik mungkin akan dirasakan secara nyata, siswa dan mahasiswa kritis yang gemar berdiskusi, dan pendidik yang memeberikan jalan siswa atau mahasiswa untuk berpikir kritis, dengan ilmunya yang melimpah dari buku-buku yang telah dibaca. Setelah keadaan begitu, mungkin tidak ada lagi tradisi keledai (teradisi menghafal), tetapi yang ada tradisi mengeksplorasi. Kita tidak akan lagi menjadi Negara penikmat, melainkan pemberi, ataupun bukan lagi penumpang yang hanya mengandalkan karya-karya dari Negara lain yang telah maju, tapi pastilah kita akan menjadi Negara pengemudi yang banyak memberikan karya, karena pada kenyataan kekayaan alam Negara ini sangatlah melimpah untuk di budidayakan. Namun kita juga harus ingat “…., sebagaimana layaknya setiap perubahan, maka tak pernah ada perubahan yang langsung berakhir dengan kesempurnaan”. Itu pesan terakhir yang bisa ambil dari artikel Rheynald kasali yang berjudul Kurikulum “Berpikir” 2013. Walaupun begitu kita harus berani membuat perubahan. Untuk mendapatkan perubahan, saya ingin berpesan, bersemangatlah untuk membaca, karena dengan membaca perubahan akan terwujud. Optimislah Indonesia akan maju ditangan generasi-generasi muda sekarang, dan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s